Mandi mungkin jadi momen menyegarkan buat manusia. Tapi buat Bocil?
Itu pengkhianatan.
Itu penghinaan.
Itu… kiamat kecil.
Udah dari kecil, Bocil benci air. Bahkan suara kran dinyalain aja bisa bikin dia kabur ke belakang lemari. Tapi tetap, setiap sebulan sekali, ritual Mandi Paksa harus dilakukan. Karena meskipun dia putih bersih... kalau udah bau, ya bau.
Prosesnya selalu dimulai sama aksi kejar-kejaran.
Begitu aku bawa handuk dan sabun kucing, dia langsung tahu:
"Oke, ini waktunya kabur."
Dia sembunyi di tempat absurd di bawah kulkas, di balik sofa, bahkan pernah masuk ke dalam laci lemari yang kebuka setengah. Tapi akhirnya selalu tertangkap. Dan begitu masuk ke kamar mandi?
Drama pun dimulai.
Dia meong keras seolah sedang disiksa.
Kakinya nempel ke dinding, berusaha manjat ke atas keramik.
Matanya melotot ke aku, seakan bilang: “Kenapa kamu tega, manusia?”
Tapi bagian terbaik adalah setelah selesai mandi. Bocil bakal:
-
Lari keliling rumah sambil lompat-lompat kayak setan
-
Guling-guling di karpet yang baru dibersihin
-
Duduk di pojokan dengan ekspresi tersinggung selama satu jam penuh
Dan kalau kamu coba ajak main?
Cuek.
Fix, dia ngambek.
Tapi lucunya, setelah satu jam drama, Bocil mulai kembali seperti biasa. Ngedusel pelan, mulai meong kecil, terus tidur di pangkuan. Mungkin dalam hatinya:
"Gue maafin, tapi gue gak lupa." 😾
Begitu besoknya?
Putih kinclong, wangi, dan sok imut lagi.
Padahal kemarin ngamuk kayak habis disiram minyak panas.
Ah, Bocil.
Kucing putih. Hati sensitif. Jiwa diva.
Komentar
Posting Komentar