Bocil dan Kisah Cinta dengan Kucing Tetangga

Setiap sore, sekitar jam 5, Bocil duduk di depan jendela. Diam. Fokus. Tatapannya lurus ke satu titik di luar pagar.

Dan di sanalah dia...
Si Cinta Tak Terjangkau: kucing betina oranye dari rumah tetangga.

Aku kasih nama dia “Siti”. Bukan nama asli, tapi kayak cocok aja. Siti ini anggun, jalannya pelan, dan suka lewat depan rumah. Setiap kali dia muncul, Bocil langsung meong pendek dan memposisikan diri, duduk tegak seperti ksatria menanti tuannya.

Pernah suatu hari, Siti duduk sebentar di dekat pagar. Bocil langsung panik, loncat-loncat ke kaca, panggil-panggil lewat suara "mweow~" lirih, seperti lagi ngirim puisi dari balik jeruji.

Aku yang nonton cuma bisa ngelus dada.
"Cil, cinta lo gak akan kesampaian kalau cuma tatapan doang, bro."

Akhirnya aku coba bukain pintu. Bocil keluar pelan-pelan... tapi pas nyampe ke Siti?
Langsung nunduk, diem, dan balik badan.
NGGAK NGAPA-NGAPAIN.
Cuma jalan muter, lalu pulang lagi. Mungkin dia gugup. Mungkin dia sadar dirinya belum mapan.

Yang bikin tambah kasihan, suatu hari Siti lewat sambil digandeng kucing jantan lain. Warnanya hitam legam, badannya gede, dan jalannya pede. Bocil ngintip dari balik gorden…
dan diem.
Gak meong, gak gerak.
Cuma... termenung.

Sejak itu, tiap Siti lewat, Bocil hanya menatap dengan penuh luka lama. Dia udah gak ngejar, gak meong.
Hanya... melihat.

Mungkin cinta pertama Bocil memang tragis. Tapi dia tetap setia duduk di depan jendela. Siapa tahu, suatu hari nanti…
Siti kembali tanpa si cowok hitam.
Dan cinta Bocil... punya kesempatan kedua.

Komentar