Bocil Kucing Supir Taksi Mainan

 Hari itu, adikku yang masih kecil lagi main mobil-mobilan besar taksi plastik ukuran balita, yang biasanya dinaikin anak-anak buat didorong-dorong. Tapi hari itu bukan anak kecil yang naik...

melainkan Bocil.

Entah kenapa, Bocil mendekat ke mobil mainan itu, naik ke dalamnya, duduk di depan layaknya supir, dan... diem. Gak bergerak, gak meong, cuma duduk dengan ekspresi tenang seolah dia lagi nunggu penumpang.

Awalnya kita kira cuma iseng sebentar. Tapi ternyata Bocil betah banget. Dia duduk sambil sesekali liat ke kiri-kanan kayak supir ngetem di stasiun. Tangan depannya nempel ke dashboard plastik mainan, dan posisi duduknya tegak. Serius, kalau dia punya SIM, udah pasti sah nyupir.

Adikku, yang iseng, mulai dorong pelan mobilnya. Reaksi Bocil?
Santai.
Matanya setengah merem, angin kipas nyapu mukanya, dan... dia malah melenguh pelan kayak nikmatin perjalanan.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti. Bocil masih duduk manis. Tapi begitu adikku ngomong, “Oke supir, turun sini ya,” dia langsung loncat keluar dengan elegan. Lalu jalan ke kasur dan tidur, seolah habis narik seharian.

Sejak itu, mobil mainan itu jadi “angkutan Bocil”. Kadang dia masuk sendiri, duduk sebentar, lalu keluar lagi. Bahkan pernah sekali dia masukin mainannya sendiri bola kecil ke dalam mobil, terus duduk seolah-olah lagi antar paket.

Mungkin di dunia rahasia para kucing, Bocil kerja paruh waktu jadi supir.
Entah GoCat, CatCar, atau Bocil Express.
Yang jelas, rating bintangnya pasti lima.

Komentar