Hari Bocil Jadi Nasi Kucing

 Hari itu aku beli nasi bungkus buat makan malam nasi kucing ala angkringan, lengkap dengan sambel teri dan tempe bacem. Begitu masuk rumah, aku taruh bungkusannya di atas meja pendek. Baru mau ambil minum, pas balik lagi…

Bocil udah duduk di atasnya.

Bukan di sebelahnya, bukan di dekatnya. Di ATAS bungkus nasinya. Dengan posisi duduk tegak, ekor melingkar rapi, dan ekspresi muka sok polos kayak:
"Kenapa? Ini tempat duduk gue sekarang, bukan?"

Aku sempat mikir: “Apa dia suka baunya?” Tapi kayaknya enggak. Karena pas aku mau ambil, dia malah makin duduk erat. Kakinya ditarik ke dalam, dan pantatnya nge-press ke nasi kayak lagi ngeram sesuatu yang penting. Nasi kucing rasa… kucing?

Puncaknya adalah ketika aku coba gendong dia pelan-pelan, dia meong kecil sambil noleh ke belakang, kayak bilang:
"Tolong… jangan pisahkan aku dengan cintaku..."

Akhirnya setelah negosiasi panjang, Bocil turun… tapi dia ninggalin jejak:
bekas pantat di atas kertas nasi.

Dan ya, aku tetap makan itu nasi. Karena sayang. Dan karena aku tahu, jejak Bocil = restu.

Sejak hari itu, tiap beli nasi kucing aku harus sembunyikan dulu. Tapi kadang aku sengaja taruh satu bungkus kosong buat dia dudukin. Mungkin buat Bocil, itu persembahan suci.
Atau mungkin...
dia pikir dia juga bagian dari menu.

Komentar